Selasa, 18 Oktober 2016

Laporan Praktikum Kadar Gula Darah dan Asam Urat

KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim Alhamdulillah, penulis memanjatkan puji dan syukur kehadiran Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-NYA penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum dengan judul :”Pemeriksaan Kadar Gula Darah dan Asam Urat”. Penulisan laporan ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah praktkum patologi klinik. Pada kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besar nya kepada : 1. Bapak Dr.Hadi sunaryo,M.Si.,Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA Jakarta. 2. Ibu koriyati,M.Farm.,Apt selaku Ketua Program Study Farmasi FFS UHAMKA. 3. Ibu Nurhasnah,M.Farm.,Apt selaku pembimbing. 4. Assisten dosen yang bertugas. 5. BApak dan ibu tercinta ats doa dan dorongan semangat nya kepada penulis, baik moril maupun materi serta kepada kakak dan adik-adik tercinta, yang banyak memberikan dukungan kepada penulis. 6. Teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Penulis menyadari bahwa pada penulisan ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan ilmu dan kemampuan penulis. Untuk itu saran dan keritik dari pembaca sangat penulis harapkan.penulis berharap laporan ini dapat berguna bagi semua pihak yang memerlukan. Jakarta, Oktober 2016 Penulis  BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tubuh manusia terdiri dari jutaan sel-sel, di mana masing-masing sel membutuhkan energi untuk kehidupannya. Energi tersebut berasal dari makanan, terutama zat karbohidrat. Yang termasuk karbohidrat antara lain glukosa (gula tebu), fruktosa (gula buah), maltosa, sukrosa, laktosa, dan tepung (starch). Karbohidrat diurai menjadi glukosa, sebagian menjadi galaktosa dan fruktosa. Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah . Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Pemeriksaan kadar glukosa adalah suatu pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui jumlah gula dalam darah, pemeriksaan ini mendeteksi keadaan hiperglikemi dan hipoglikemi yang berkaitan dengan penyakit Diabetus Melitus. Asam urat merupakan penyakit yang diakibatkan dari konsumzi zat purin secara berlebihan. Purin diolah tubuh menjadi asam urat, tapi jika kadar asam urat berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan sehingga kristal asam urat menumpuk di persendian. Akibatnya sendi terasa nyeri, bengkak dan meradang. Pravelensi hiperurisemia atau kadar asam urat yang tinggi terus meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pravelensi hiperurisemia mencapai 29%. Hiperurisemia sering dikaitkan dengan penyakit gout, namun tidak selalu berkaitan dengan gout. (Mandell, 2008). Penderita asam urat (gout) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan terjadi kecenderungan di derita pada usia yang semakin muda Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar gula darah dan asam urat sehingga dapat diketahui bahaya yang disebabkan oleh kelebihan atau kekurangan dari kadar gula darah dan asam urat yang diharapkan dapat dilakukan tindakan pencegahan ataupun diagnose secara dini. 1.2 Tujuan Praktikum a. Untuk memeriksa kadar gula darah dan asam urat dalam darah b. Untuk mengetahui interpretasi data hasil pemeriksaan kadar gula darah dan asam urat dalam darah 1.3 Manfaat Praktikum a. Dapat mengetahui kadar gula darah dan asam urat dalam darah b. Dapat mengetahui kelainan-kelainan yang berkaitan dengan kadar gula darah dan asam urat dalam darah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Glukosa Darah Pengertian Glukosa darah atau kadar gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Glukosa (kadar gula darah), suatu gula monosakarida, karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga utama dalam tubuh. Glukosa merupakan prekursor untuk sintesis semua karbohidrat lain di dalam tubuh seperti glikogen, ribose dan deoxiribose dalam asam nukleat, galaktosa dalam laktosa susu, dalam glikolipid, dan dalam glikoprotein dan proteoglikan ( Murray R. K. et al., 2003). Di dalam darah kita didapati zat gula. Gula ini gunanya untuk dibakar agar mendapatkan kalori atau energy. Sebagian gula yang ada dalam darah adalah hasil penyerapan dari usus dan sebagian lagi dari hasil pemecahan simpanan energi dalam jaringan. Gula yang ada di usus bisa berasal dari gula yang kita makan atau bisa juga hasil pemecahan zat tepung yang kita makan dari nasi, ubi, jagung, kentang, roti, dan lain-lain (Djojodibroto, 2001). Gula dalam darah terutama diperoleh dari fraksi karbohidrat yang terdapat dalam makanan. Gugus/molekul gula dalam karbohidrat dibagi menjadi gugus gula tunggal (monosakarida) misalnya glukosa dan fruktosa, dan gugus gula majemuk yang terdiri dari disakarida (sukrosa, laktosa) dan polisakarida (amilum, selulosa, glikogen). Menurut buku pedoman interpretasi data klinik Kemenkes RI nilai normal glukosa darah adalah 70-100 mg/dL untuk usia ≥7 tahun dan 60-100 mg/dL untuk usia 12 bulan- 6 tahun. Nilai normal glukosa dalam darah adalah 3,5-5,5 mmol/L. (James, Baker, & Swain, 2008). Dalam keadaan normal, kadar gula dalam darah saat berpuasa berkisar antara 80 mg%-120 mg%, sedangkan satu jam sesudah makan akan mencapai 170 mg%, dan dua jam sesudah makan akan turun hingga mencapai 140 mg% (Lanywati, 2001). Setelah makan, karbohidrat dalam makanan berfungsi sebagai sumber utama glukosa darah. Sewaktu kadar glukosa darah kembali ke rentang puasa dalam 2 jam setelah makan, glikogenolisis dirangsang dan mulai memasok glukosa ke darah. Kemudian, glukosa juga dihasilkan melalui glukoneogenesis. Selama puasa 12 jam, sumber utama glukosa adalah glikogenolisis. Namun setelah puasa sekitar 16 jam, glikogenolisis dan glukoneogenesis memiliki peran yang sama dalam memelihara glukosa darah. Tiga puluh jam setelah makan, simpanan glikogen di dalam hati habis. Akibatnya, glukoneogenesis adalah satu – satunya sumber glukosa darah. Mekanisme tersebut yang menyebabkan lemak digunakan sebagai bahan bakar utama dan yang memungkinkan kadar glukosa darah dipertahankan selama masa kekurangan makanan menyebabkan protein tubuh dapat dipertahankan. Karena itu, manusia dapat bertahan hidup tanpa mendapat makanan dalam jangka waktu alam, sering melebihi satu bulan bahkan lebih. Ada beberapa factor yang mengatur kadar glucose tidak melaui ambang batas: 1. INSULIN yang dihasilkan PANKREAS tubuh. Insulin mengubah glucose darah menjadi energy 2. GLUKAGON yang dihasilkan PANKREAS; apabila kadar glucose berlebih akan diubah menjadi glikogen, atau sebaliknya apabial kadar glucose darah rendah akan mengubah glikogen menjadi glucose 3. Proses glukoneogenesis yang akan mengubah Lemak dan protein tubuh menjadi glucose darah apabila kadar glucose darah rendah Glikolisis adalah proses penguraian molekul glukosa yang memiliki enam atom karbon, secara enzimatik untuk menghasilkan dua molekul piruvat yang memiliki tiga atom karbon. Glikolisis dapat terjadi di luar tubuh setelah sampel darah dikeluarkan dari dalam tubuh, bila tanpa zat penghambat glikolisis maka komponen yang ada dalam sampel darah seperti eritrosit, lekosit, dan juga kontaminasi bakteri dapat menyebabkan kadar glukosa darah menurun. Glikolisis juga dapat terjadi karena pengaruh suhu dan lama penyimpanan. Penyakit yang berhubungan dengan glukosa darah: 1. Hiperglikemia • karena penyakit kelenjar tiroid/gondok. Pada pembesaran kelenjar tiroid/gondok maka akan terjadi peningkatan kadar glucose darah. Kenaikan kadar glucose darah disebabkan hiper aktifitas dari hormone yang dikeluarkan kel gondok (tiroksin) • Hiperglikemi karena kelainan kelenjar otak (hipofise, hipotalamus) • Hiperglikemi karena kekurangan, kelemahan aktifitas hormone insulin yang diproduksi dan dikeluarkan oleh pancreas. Kelainan in disebut Diabetes Mellitus. 2. Hipoglikemia Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada dibawah normal , yang terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan , aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Syndrome hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain : penderita merasa pusing , lemas , gemetar , pandangan menjadi kabur dan gelap , berkeringat dingin , detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran ( syok hipoglikemia ). 3. Diabetes mellitus Diabetes mellitus adalah sekumpulan dari gangguan metabolic yang ditandai oleh hiperglikemia dan abnormalitas metabolism dari karbohidrat, lemak dan protein. Semua hal diatas merupakan hasil dari defect sekresi insulin baik mutlak maupun relative dan berkurangnya sensitivitas jaringanterhadap insulin atau keduanya. Simtom yang menyertai DM ada 3 P (Poliuria, polifagi, polidipsi), BB berkurang, kelelahan, dan adanya infeksi berulang (Priyanto, 2009). 2.2 Asam Urat Asam urat merupakan produk akhir dari degradasi purin yang bersumber dari dalam tubuh atau diet dan dianggap sebagai sampah yang harus dibuang. Kadar asam urat yang berlebihan merupakan akibat dari over produksi (degradasi purin) atau karena ekskresi yang rendah. Sumber purin ada 3 yaitu diet, konversi asam nukleat jaringan ke nukleutida purin dan hasil sintesis (Priyanto, 2009). Gout merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan hiperuresemia, serangan akut dan berulan, ditandai dengan adanya Kristal monosodium urat (MSU) atau asam uratpada cairan synovial (cairan sendi), dan terbentuknya jaringan (tophi) dan neprolitiatis asam urat (Dipiro et all, 2015). Menurut kemenkes RI nilai normal asam urat adalah pria ≥15 tahun 3,6-8,5 mg/dL dan wanita >18 tahun 2,3-6,6 mg/dL. Penyakit asam urat merupakan penyakit yang diakibatkan dari konsumzi zat purin secara berlebihan. Purin diolah tubuh menjadi asam urat, tapi jika kadar asam urat berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan sehingga kristal asam urat menumpuk di persendian. Akibatnya sendi terasa nyeri, bengkak dan meradang. Pada umumnya menyerang laki-laki (90%) usia dewasa muda sekitar 40 tahun, sedangkan pada wanita penyakit ini lebih banyak menyerang mereka yang telah mengalami menopause. Hal ini disebabkan karena Kadar asam urat kaum pria cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Pada wanita, peningkatan itu dimulai sejak masa menopause. Asam urat cenderung dialami pria karena perempuan mempunyai hormon estrogen yang ikut membantu pembuangan asam urat lewat urine. Sementara pada pria, asam uratnya cenderung lebih tinggi daripada perempuan karena tidak memiliki hormon estrogen tersbut . Kadar purin yang meningkat dalam tubuh adalah faktor utama terjadinya asam urat, baik yang berasal dari makanan maupun gangguan metabolisme. Apabila asam urat sudah berlebih dan sudah terjadi penumpukan didalam persendian maka akan dirasakan nyeri yang tak tertahankan. Purin adalah zat yang terkandung dalam setiap bahan makanan seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, pada saat kita mengkonsumsi maka zat purin tersebut pindah kedalam tubuh kita. Selain itu juga purin dihasilkan dari perusakan sel-sel tubuh yang terjadi secara normal atau karena penyakit tertentu. Sehingga menjadi penyebab utama penyakit asam urat karena asam urat sendiri merupakan sisa metabolism zat purin yang berasal dari makanan yang dikonsumsi dan juga merupakan hasil samping dari pemecahan sel darah . Pada awalnya gejala asam urat dirasakan biasanya pada persendian dan ini dirasakan selama beberapa hari, dan setelah itu rasa nyeri itu akan hilang sampai kembali lagi menyerang kita. Ini yang perlu kita waspadai jangan sampai itu terjadi pada diri kita. Gejala asam urat disebabkan karena kristalisasi asam urat yang terbentuk dalam sendi-sendi perifer sehingga akan merasakan nyeri pada persendian. Ini dikarenakan daerah persendian tersebut lebih dingin daripada dipusat tubuh. Dan biasanya dalam suhu yang dingin urat cenderung membeku. Gejala lainnya dimana asam urat biasa terjadi akibat kristalisasi dalam persendian ini adalah rasa kesemutan yang sangat parah. BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat dan Bahan 1. Darah vena manusia 2. Reagen (pereaksi glukosa kit) 3. Reagen asam urat 4. Kapas alcohol 70% 5. Spuit 1 mL 6. Mikrotube 7. Mikropipet 8. Sentrifugase 9. Spektrofotometer klinikal 3.2 Prosedur Kerja 1. Pengambilan darah vena kira-kira 1 mL 2. Darah di sentrifugase pada putaran 4000 rpm selama 15 menit hingga diperoleh serum darah 3. Ambil serum darah/pisahkan dengan sel darah 4. Pemeriksaan kadar gula darah : a. Ambil serum darah 10 µL masukkan ke mikrotube tambahkan reagen pereaksi glukosa kit 1000 µL b. Kemudian divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C c. Kemudian diukur kadarnya dengan menggunakan fotometer klinikal 5. Pemeriksaan asam urat a. Ambil serum darah 20 µL masukkan ke mikrotube tambahkan reagen pereaksi uric acid 1000 µL b. Kemudian divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C c. Kemudian diukur kadarnya dengan menggunakan fotometer klinikal BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Praktikum A. Pemeriksaan Kadar Gula Darah No. Nama Mahasiswa Kadar Glukosa Darah 1 Lisa 132 mg/dL 2 Farah 53 mg/dL 3 Dewi 128 mg/dL 4 Ijih 185 mg/dL 5 Marun 41 mg/dL B. Pemeriksaan Asam Urat No. Nama Mahasiswa Kadar Asam Urat 1 Lisa 2,6 mg/dL 2 Farah 1,4 mg/dL 3 Dewi 4,49 mg/dL 4 Ijih 4,64 mg/dL 5 Marun 0,02 mg/dL 4.2 Pembahasan A. Pemeriksaan Kadar Gula darah Glukosa merupakan suatu gula monosakarida, karbohidrat terpenting yang digumakan sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Gula darah adalah istilah yang mengacu pada tingkat glukosa didalam darah atau tingkat glukosa serum. Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk memeriksa kadar glukosa dalam darah dengan menggunakan sampel darah vena dan serum darah yang telah diambil beberapa hari yang lalu.penggunaan sampel serum lama ini dikarenakan kurangnya keahlian praktikan dalam mengambil sampel darah vena. Sampel darah vena dewi disentrifugasi pada putaran 4000 rp selama 15 menit yang bertujuan untuk memisahkan antara serum darah, buffet coat dan sel darah. Prinsip kerja dari alat sentrifugasi adalah sampel diputar horizontal pada jarak radial dari titik yang dikenakan gaya sentrifugalsehingga parkel-partikel dalam sampel akan berpisah sesuai dengan berat jenisnya. Serum darah diambil sebanyak 10 µL dengan menggunakan mikropipet ditambahkan reagen pereaksi glukosa kit sebanyak 1000 µL lalu divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C. suhu ini menyesuaikan suhu tubuh manusia sehingga sampel diharapkan memiliki kondisi yang sama dengan di dalam tubuh. kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan fotometer klinikal. Hasil pengukuran yang didapat adalah kadar gula darah lisa 132 mg/dL, Farah 53 mg/dL, Dewi 128 mg/dL, Ijih 185 mg/dL, Marun 41 mg/dL. Berdasarkan buku pedoman interpretasi data klinik Kemenkes RI nilai normal glukosa darah adalah 70-100 mg/dL untuk usia ≥7 tahun dan 60-100 mg/dL untuk usia 12 bulan- 6 tahun. Dibandingkan dengan nilai normal tersebut maka data hasil pemeriksaan tidak berada dalam batas normal. Kadar glukosa darah Farah dan Marun berada di bawah normal (Hipoglikemia). Nilai hasil pemeriksaan ini sangat tidak masuk akan karena jika gula darah sudah jauh berada di bawah batas normal maka kemungkinan pasien tidak sadarkan diri sangat tinggi hal in9i disebabkan sel-sel tubuh sudah sangat kekurangan nutrisi sehingga akan menyebabkan berbagai kerusakan organ bahkan kematian. sedangkan kadar glukosa darah Lisa, Dewi dan Ijih berada diatas batas normal (Hiperglikemia) tetapi kadar glukosa darah Dewi dan Lisa msh belum terlalu tinggi dibandingkan kadar gula darah ijih yang harus diwaspadai kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus. Hiperglikemia pada praktikum ini kemumgkinan disebabkan responden mengkonsumsi makan tinggi karbohidrat sebelum dilakukan pemeriksaan, sedangkan nilai kadar gula darah yang sangat tidak masuk akal (jauh dibawah normal) disebabkan oleh sampel serum yang digunakan sudah diambil beberapa hari yang lalu dan disimpan didalam kulkas sehingga serum sudah tidak stabil. Hiperglikemia merupakan suatu tanda penyakit Diabetes mellitus dimana terjadi gangguan pada insulin sehingga kemampuan ginjal berkurang dalam melakukan penyaringan darah. Hiperglikemia memiliki gejala poliuria, polidipsi, dan poliphagia. B. Pemeriksaan Asam Urat Asam urat merupakan produk akhir dari degradasi purin yang bersumber dari dalam tubuh atau diet dan dianggap sebagai sampah yang harus dibuang. Asam urat terbentuk dari penguraian asam nukleat. Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk memeriksa kadar asam urat dalam darah dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Sampel yang digunakan adalah darah vena Dewi dan serum darah Lisa, Farah, Ijih dan Marun. Sampel darah vena dewi disentrifugasi pada putaran 4000 rp selama 15 menit yang bertujuan untuk memisahkan antara serum darah, buffet coat dan sel darah. Prinsip kerja dari alat sentrifugasi adalah sampel diputar horizontal pada jarak radial dari titik yang dikenakan gaya sentrifugalsehingga parkel-partikel dalam sampel akan berpisah sesuai dengan berat jenisnya. Serum darah diambil sebanyak 20 µL dengan menggunakan mikropipet ditambahkan reagen uric acid sebanyak 1000 µL lalu divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C. suhu ini menyesuaikan suhu tubuh manusia sehingga sampel diharapkan memiliki kondisi yang sama dengan di dalam tubuh. kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan fotometer klinikal pada panjang gelombang 546 nm yang merupakan panjang gelombang quinoeimine yaitu hasil reaksi hydrogen peroksida dari asam urat dengan DCHBS dan PAC dimana panjang gelombang ini sebanding dengan kadar asam sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan didapat kadar asam urat dalam darah Lisa 2,6 mg/dL, Farah 1,4 mg/dL, Dewi 4,49 mg/dL, Ijih 4,64 mg/dL, Mahrun 0,02 mg/dL. Menurut kemenkes RI nilai normal asam urat adalah pria ≥15 tahun 3,6-8,5 mg/dL dan wanita >18 tahun 2,3-6,6 mg/dL. Dibandingkan dengan hasil praktikum maka kadar asam urat Lisa, Dewi dan Ijih berada dalam batas normal sedangkan kadar asam urat farah dan Mahrun berada dibawah batas normal, hasil ini kemungkinan disebabkan oleh sampel serum yang digunakan sudah tidak stabil karena diambil beberapa hari sebelumnya dan telah disimpan dalam kulkas pada suhu 2-80C. serum darah untuk pemeriksaan asam urat stabil pada suhu 40C tidak lebih dari 5 hari. Asam urat sebagian besar diekskresi melalui ginjal dan hanya sebagian kecil melalui saluran cerna. Ketika kadar asam urat meningkat disebut hiperuresemia dan penderita akan mengalami gout, yaitu suatu penyakit yang ditandai dengan hiperuresemia. Serangan akut dan berulang ditandai dengan adanya Kristal monosodium urat (MSU) atau asam urat pada cairan synovial (cairan sendi) dan terbentuk jaringan (tophi) dan neprolitiasis asam urat. Asam urat meningkat bila redapat kelebihan produksi sel seperti leukemia atau ketidak mampuan mengeksresi urat melalui ginjal/gangguan pada tubulus distal atau karena ginjal yang rusak. Gejala yang ditimbulkan adalah bengkak dan inflamasi. Diawali jari-jari kaki, lutut, siku, bagian belakang kaki yang berbentuk bulat, kemerah-merahan pada sendi. Serangan gout akut dapat terjadi karena stress, trauma, alcohol, operasi dll. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah Farah 5,3 mg/dL dan Mahrun 41 mg/dL berada dibawah batas normal (hiplogikemia) sedangkan kadar glukosa darah Lisa 132 mg/dL, Dewi 128 mg/dL dan Ijih 185 mg/dL berda diatas batas normal (Hiperglikemia). b. Hasil pemeriksaan kadar asam urat dalam darah Lisa 2,6 mg/dL, Dewi 4,49 mg/dL, Ijih 4,44 mg/dL berada dalam batas normal yang berarti tidak terjadi gangguan pada tubuh khususnya ginjal. Sedangkan kadar asam urat farah 1,4 mg/dL dan Mahrun 0,02 mg/dL berada dibawah batas normal. 5.2 Saran Sebaiknya dalam pengambilan darah vena dilakukan oleh staf ahli atau praktikan diberi pelajaran terlebih dahulu tentang tatacara pengambilan darah vena sehingga hasil praktikum yang didapatkan lebih akurat. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. Pedoman Interpretasi data Klinik. Kemenkes RI: Jakarta Dipiro, Joseph et all. 2015. Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition. MC Grow Education : New York Djojodibroto, D. R. 2001. Seluk Beluk Pemeriksaan Kesehatan . Pustaka Populer Obor : Jakarta Lanywati, E. 2001. Insomnia. Kanisius : Yogyakarta Mandell, Brian F, 2008, Cleveland Clinic Journal of Medicine: Clinical manifestations of hyperuricemia and gout. Department of Rheumatic and Immunologic Diseases, Center for Vasculitis Care and Research, Cleveland Clinic: Cleveland, OH Murray, RK. 2003. Harper’s Biochemistry. Edisi ke – 25. Karolina SK, penerjemah. EGC : Jakarta Priyanto. 2009. Farmakoterapi & Terminologi Medis. Leskonfi : Jakarta Pudjiaji,A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Gramedia : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar